survei

Sawit RI Masih Andalkan Pasar India

4 December 2017

Indonesia masih mengandalkan pasar India untuk ekspor minyak sawit mentah (CPO) dan produk turunannya tahun ini. Tuduhan antidumping terhadap fatty alcohol Indonesia oleh India belum akan memengaruhi kinerja ekspor sawit ke negara tersebut. Pada 2016, India menyerap 22% dari total ekspor minyak sawit Indonesia, paling tinggi dari negara tujuan ekspor lainnya. Sekjen Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Togar Sitanggang mengatakan setidaknya terdapat enam isu yang harus harus dihadapi industri sawit nasional saat ini. Pertama, laporan KPK yang menyebutkan pengelolaan sawit rawan korupsi. Kedua, penguatan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). Ketiga, kandungan karsinogen. Keempat, antidumping biodiesel AS. Kelima, Resolusi Sawit Parlemen Eropa. “Dan yang paling fresh from the oven adalah tuduhan antidumping fatty alcohol dari India, ini baru akhir April ini dimunculkan,” ujar Togar. Tudingan antidumping biodiesel AS ditujukan ke Wilmar dan Musim Mas. Tudingan dari India juga ditujukan pada kedua perusahaan sawit tersebut, hanya saja produk sawitnya berbeda. Eropa juga pernah menuduh antidumping untuk fatty alcohol Indonesia pada 2012. “Soal ini memang menjadi ranah Kemendag. Kalau hanya meningkatkan promosi, rasanya tidak mudah,” ujar Togar.
Wartawan: Tri Listyarini.

Sumber: Investor Daily, Hal 7 (Sabtu, 29 April 2017)