Perundingan Putaran ke-2 Indonesia-Turki CEPA (IT-CEPA)

30 May 2018

Ankara, 28 Mei 2018 – Perundingan Indonesia-Turkey Comprehensive Economic Partnership Agreement (IT-CEPA) telah memasuki tahap kedua. Perundingan yang berlangsung pada 28—30 Mei 2018 di Ankara, Turki ini merupakan salah satu upaya Indonesia meningkatkan ekspor ke Turki. Pada putaran kedua kali ini, Delegasi Indonesia dipimpin Direktur Perundingan Bilateral Ni Made Ayu Marthini, sementara Delegasi Turki dipimpin Direktur Jenderal urusan Uni Eropa Murat Yapici. Perundingan ini juga dihadiri Duta Besar RI untuk Turki Wardana.


“Perundingan ini merupakan kelanjutan dari perundingan sebelumnya yang digelar pada 8—9 Januari 2018 lalu di Jakarta. Melalui perundingan ini, diharapkan dapat mengurangi hambatan ekspor sehingga mampu meningkatkan ekspor ke Turki,” ungkap Made. Perundingan IT-CEPA dilakukan secara bertahap. Pada putaran pertama, kedua negara merundingkan isu perdagangan barang terlebih dahulu. Isu ini terdiri dari aspek kepentingan akses pasar barang serta pengaturan atau ketentuan perdagangan barang seperti peraturan asal barang, fasilitas perdagangan dan bea cukai, perbaikan perdagangan, hambatan teknis perdagangan, sanitasi dan fitosanitasi, serta masalah hukum, sedangkan pengaturan tentang kerja sama akan dibahas lebih lanjut.


Pada putaran kedua ini, Indonesia dan Turki akan memfinalisasi kerangka acuan (TOR) perundingan, modalitas akses pasar, dan pembahasan teks perjanjian. Modalitas perundingan akses pasar merefleksikan komitmen, cakupan isu runding, dan tingkat liberalisasi yang akan disepakati. “Dari perundingan IT-CEPA ini, diharapkan adanya perlakuan preferensi perdagangan Turki terhadap produk-produk Indonesia agar dapat bersaing di pasar Turki. Selain itu, juga agar tidak tertinggal dari negara pesaing yang telah memiliki perjanjian perdagangan dengan Turki terlebih dahulu,” ujar Made. Lebih lanjut Made menyatakan, salah satu tujuan perundingan adalah mengeliminasi hambatan perdagangan, baik tarif maupun nontarif. Hal ini agar produk Indonesia memiliki level yang sama dengan negara pesaing. “Hambatan perdagangan tersebut diyakini mempengaruhi kinerja ekspor Indonesia ke Turki yang mengalami penurunan secara substansial dalam kurun waktu lima tahun terakhir,” terang Made


Turki merupakan salah satu negara yang paling aktif melakukan perundingan perjanjian perdagangan bebas (FTA). Negara ini telah melakukan 21 perjanjian yang telah diimplementasikan dan 10 perjanjian masih dalam proses perundingan. ”Produk Indonesia akan mengalami kesulitan bersaing di pasar Turki apabila masih menghadapi tarif tinggi dan kebijakan antidumping atau safeguard Turki. Untuk itu, Perundingan ini penting untuk segera diselesaikan. Selain itu, perundingan minggu ini diharapkan dapat mencapai kemajuan signifikan untuk mengejar target penyelesaian tahap pertama pada awal tahun 2019,” imbuh Made.


Total perdagangan Indonesia Turki pada tahun 2017 mencapai USD 1,7 miliar. Turki merupakan negara tujuan ekspor nonmigas ke-28 bagi Indonesia. Pada tahun 2017, nilai ekspor Indonesia ke Turki mencapai USD 1,2 miliar. Produk ekspor utama adalahnya karet, tekstil, dan minyak kelapa sawit. Di sisi lain, Turki merupakan negara asal impor nonmigas ke-33 bagi Indonesia. Pada tahun 2017, total impor Indonesia dari Turki sebesar USD 534,1 juta dengan produk utama seperti besi baja, tembakau, produk kimia, dan katun, dengan nilai investasi Turki di Indonesia mencapai USD 1,5 juta.