Akselerasi Perundingan Dagang: Indonesia Gelar Putaran Ketiga Indonesia-Turkey CEPA

24 January 2019

Jakarta, 24 Januari 2019 – Para Perunding dari Indonesia dan Turki kembali bertemu  dalam putaran ketiga Indonesia-Turkey Comprehensive Economic Partnership Agreement (IT CEPA) yang berlangsung selama 2 (dua) hari sejak tanggal 24 s/d 25 Januari 2019 di Jakarta. Perundingan kali ini merupakan kelanjutan perundingan putaran sebelumnya yang dilaksanakan pada tanggal 28-30 Mei 2018 di Ankara, Turki.

Pada perundingan putaran ketiga ini, 6 (enam) Working Grup bertemu untuk membahas berbagai isu terkait perdagangan barang seperti akses pasar dan draft teks; Customs and Trade Facilitation (CTF); Trade Remedies (TR); Technical barrier to trade (TBT), Sanitary and phytosanitary (SPS) dan Legal.

“Indonesia sebagai tuan rumah menekankan pentingnya perundingan berjalan konstruktif dalam membahas isu-isu penting dalam keenam working group.  Kedua pihak mengharapkan dapat menyelesaikan Terms of Reference sebagai pedoman dalam melakukan perundingan kedepannya, “ jelas Direktur Perundingan Bilateral, Ni Made Ayu Marthini, yang memimpin delegasi Indonesia.

Penyelenggaraan putaran ketiga ini merupakan salah satu bentuk keseriusan pemerintah dalam upaya peningkatan kerjasama ekonomi dengan berbagai negara mitra dagang untuk meningkatkan kinerja ekspor Indonesia. “Meskipun data total perdagangan Indonesia-Turki menunjukkan peningkatan yang konsisten selama tiga tahun terakhir, namun kami yakin masih belum merefleksikan potensi sesungguhnya yang dimiliki kedua negara. Singkatnya, masih banyak potensi dan ruang untuk pengembangan kerja sama ekonomi antara Indonesia dan Turki. Perjanjian ini nantinya mendorong hal tersebut”, ujar Made.

Perundingan IT CEPA dilakukan secara incremental dengan tahap awal di bidang perdagangan barang yang kemudian akan dilanjutkan pada bidang perdagangan jasa, investasi dan bidang lainnya yang ditentukan kemudian. Perundingan IT CEPA diharapkan dapat meningkatkan nilai ekspor dan meningkatkan daya saing produk Indonesia di Turki dengan cara mengeliminasi hambatan perdagangan kedua negara, baik hambatan tarif maupun non tarif.

“Tahun ini kami berencana untuk mengintensifkan perundingan IT CEPA, dengan tetap mengedepankan kepentingan nasional, agar nantinya manfaat dari perundingan dapat dinikmati oleh masyarakat, kalangan usaha, eksportir maupun importir serta dapat membantu peningkatan kinerja ekspor nasional dan memperbaiki neraca perdagangan Indonesia”, lanjut Made.

 

Salah satu isu penting dalam perundingan IT CEPA adalah trade remedies, mengingat Turki merupakan salah satu negara yang cukup sering menggunakan instrumen trade remedies. “Sebaik apapun kualitas produk Indonesia, tetap akan mengalami kesulitan bersaing di pasar Turki apabila masih menghadapi tarif tinggi dan kebijakan anti-dumping atau safeguard mereka. Oleh karena itu, perundingan ini penting untuk segera diselesaikan”, tegas Made.

Perundingan IT CEPA juga dapat menjadi jalan untuk memenuhi target nilai perdagangan yang telah ditetapkan oleh Presiden RI pada saat kunjungan ke Turki bulan Juli 2017, yaitu USD 10 miliar pada tahun 2023.

 

Sekilas Mengenai Hubungan Dagang Indonesia-Turki

Total perdagangan Indonesia Turki pada tahun 2017 mencapai USD 1,7 miliar dengan surplus untuk Indonesia sebesar USD 634,9 juta. 

Ekspor Indonesia ke Turki pada tahun 2017 sebesar USD 1,16 miliar. Produk ekspor utama Indonesia ke Turki diantaranya karet alam, benang, serat stapel tiruan, benang filamen sintetis, dan minyak kelapa sawit.

Pada tahun yang sama, nilai impor Indonesia dari Turki mencapai USD 534,1 dengan produk utama lain besi baja, tembakau, borates, uap atau boiler penghasil uap lainnya dan kapas.