G20

18 April 2018

 G-20

 


PENGANTAR

G20 merupakan the premier forum for international economic cooperation, yang terdiri dari 20 negara – negara dengan Gross Domestic Product (GDP) terbesar untuk mencari cara menghadapi berbagai tantangan utama ekonomi dunia, melalui dialog dan kebijakan politik para pemimpinnya. G20 memiliki posisi strategis karena secara kolektif mewakili 85 persen GDP dunia, 75 persen  perdagangan global, dan dua-per-tiga penduduk dunia bermukim di negara-negara G20.

Dengan kekuatan dan indikator-indikator ekonomi yang dimiliki oleh negara-negara anggota, G20 memiliki modalitas yang kuat sebagai main driver kerja sama ekonomi dunia serta pengaruh yang besar bagi pengelolaan perekonomian global dan sistem finansial.

Hingga akhir tahun 2017, G20 telah mengadakan dua belas kali Konferensi Tingkat Tinggi (KTT), yaitu pertemuan tingkat Kepala Negara/Pemerintahan (G20 Leaders). Pada tahun 2017, KTT diselenggarakan di Hangzhou, Republik Rakyat Tiongkok, pada tanggal 4-5 September 2017 dan dihadiri seluruh kepala negara/kepala pemerintahan anggota G20. Dalam dua hari pertemuan di Hangzhou, para Leader mencapai berbagai kesepakatan, diantaranya komitmen untuk terus meningkatkan PDB negara-negara G20 yang akan menciptakan lebih banyak lapangan pekerjaan, serta mendorong proses investasi yang lebih baik.

Dengan target pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi pada tahun 2017 dan diharapkan terus meningkat dalam tahun-tahun berikutnya, maka sangat penting bagi Indonesia untuk mengoptimalkan keanggotaannya di G20. Karakter ekonomi Indonesia yang terbuka akan sangat dipengaruhi oleh situasi ekonomi global yang merupakan area kerjasama G20. Interaksi yang kuat dengan para pemain ekonomi utama, akan membuat Indonesia semakin memahami dan dapat meramalkan situasi ekonomi dunia ke depan, dan sebaliknya negara-negara mitra tersebut juga akan memahami prioritas dan kondisi ekonomi Indonesia.

Secara khusus, G20 juga mendorong peningkatan investasi infrastruktur di negara-negara berkembang melalui penambahan akses terhadap pembiayaan dan penciptaan proyek-proyek yang bankable.  Hal ini merupakan kebijakan yang sangat penting dan berpengaruh kepada Indonesia.

Kementerian Perdagangan selaku focal point Trade and Investment Working Group (TIWG) G20 telah berpartisipasi aktif dalam Pertemuan TIWG. TIWG dibentuk sejak Presidensi RRT (2016) untuk melaksanakan amanat Deklarasi KTT G20 di Antalya, Turki (2015) guna lebih mendorong kontribusi perdagangan dan investasi bagi pertumbuhan ekonomi global.

 

PERKEMBANGAN ISU SEKTOR PERDAGANGAN DI G20 TAHUN 2017

Presidensi Jerman memiliki tiga agenda prioritas kerja sama G20 tahun 2017 di bidang perdagangan dan investasi, yaitu: (i) Supporting the Multilateral Trading System; (ii) Investment Facilitation; dan (iii) Digital Trade. Isu-isu tersebut dibahas pada Trade and Investment Working Group (TIWG).

Inti komitmen G20 pada isu perdagangan adalah pengendalian terhadap proteksionisme. Beberapa butir komitmen G20 yang disepakati terkait isu perdagangan dan investasi sebagai berikut.

1)      Mendukung ekonomi yang terbuka dan adil serta terus mengendalikan segala bentuk proteksionisme.

2)      Menggarisbawahi peran sistem perdagangan multilateral yang berbasis aturan (rule-based) di WTO. Bekerja sama untuk kesuksesan KTM ke-11 WTO dan memperkuat WTO dengan memperbaiki fungsinya, termasuk mekanisme penyelesaian sengketa dan monitoring.

3)      Memastikan perjanjian perdagangan bilateral, regional dan plurilateral tetap konsisten dengan ketentuan WTO.

4)      Memastikan agar globalisasi dapat dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat salah satunya yakni dengan cara memberikan dukungan kebijakan nasional (adjustment) seperti pendidikan, ketenagakerjaan dan infrastruktur.

5)      Adanya growing consensus perlunya penyusunan paket kebijakan fasilitasi investasi yang dapat menjadi pedoman konkrit pembuat kebijakan untuk membantu pemulihan kinerja arus investasi global.

6)      Mendukung upaya mengatasi excess capacity produksi baja dunia melalui penghapusan upaya distorsi pasar oleh pemerintah (subsidi). Mendukung kerja Global Forum on Steel Excess Capacity (GFSEC) dalam menghasilkan solusi secara kolektif dan efektif mengatasi permasalahan ini.

 

G20 ARGENTINA 2018

Sejalan dengan tingginya perhatian global terhadap kesinambungan dan inklusivitas pertumbuhan ekonomi, G20 di bawah Presidensi Argentina akan mengusung tema utama mengenai Future of Work dan Infrastructure. Dua area tematik di bidang perdagangan, yakni:

a.      Food and Agricultural Global Value Chains. Fokus pembahasan akan menyoroti gap dan tantangan yang dihadapi negara berkembang dalam meningkatkan partisipasi dan mendapatkan manfaat dari rantai nilai global di sektor pangan dan pertanian sebagai bagian dari perdagangan internasional khususnya bagi UMKM.

Beberapa isu yang akan didiskusikan oleh G20 antara lain: pola perdagangan dan investasi produk pangan dalam GVC; peningkatan nilai tambah produk pangan di tingkat kawasan dan global; hubungan antara pertanian dan teknologi ICT; peran sektor jasa dalam industri GVC pangan; tantangan UMKM dalam partisipasi GVC; dan pemberdayaan perempuan di sektor pangan dan GVC.

b.      4th Industrial Revolution. Revolusi ekonomi yang ditandai dengan makin besarnya porsi digital yang akan menggantikan peran manusia. Sementara revolusi industri dapat memberikan peluang peningkatan kinerja perdagangan dan invesatsi, revolusi industri juga dapat menyebabkan ketimpangan di Indonesia semakin besar. UKM memerlukan dukungan dalam mengadopsi teknologi dan model bisnis baru.

Beberapa isu yang dapat dieksplorasi G20 terkait revolusi industri keempat antara lain: dampak revolusi industri keempat terhadap arus perdagangan dan investasi; gap kapasitas teknologi negara berkembang; pengaruh revolusi industri keempat bagi paritisipasi UMKM dalam perdagangan internasional; dan aspek gender.

Presidensi Argentina menyusun agenda G20 yang sarat dengan muatan kepentingan negara berkembang. Untuk itu, partisipasi aktif Kementerian Perdagangan diperlukan dalam melakukan konsolidasi dan koordinasi yang intensif dengan kementerian dan lembaga terkait untuk menghadapi perundingan G20 ke depan agar sesuai dengan kepentingan nasional.

---o0o---

 

 

Jakarta,  Januari 2018

Direktorat Perundingan APEC dan Organisasi Internasional

Ditjen Perundingan Perdagangan Internasional

Kementerian Perdagangan